Jumat, 05 Mei 2017

Sampainya Pahala Bacaan Al-Qur'an Untuk Orang Meninggal

 
Oleh: KH. Thobary Syadzily Al-Bantani

Mengenai sampainya pahala bacaan Al-Qur'an kepada orang yang sudah meninggal dunia, para ulama telah berbeda pendapat. Jumhur ulama dan ketiga Imam Madzhab mempunyai pendapat bahwa pahala bacaan Al-Qur'an sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia. Akan tetapi, Imam Syafi'i berpendapat lain karena bersandarkan pada firman Allah ta'ala yang berbunyi:

وَأَن لَّيْسَ لِلإِنسَانِ إِلاَّ مَا سَعَىٰ

"Dan bahwasanya seorang manusia itu tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya. (Q.S. An-Najm {53}: 39).

Beberapa ulama yang menyatakan bahwa pahala bacaan Al-Qur'an tersebut sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia menanggapi ayat tersebut di atas dengan beberapa pandangan sebagai berikut:

1. Ayat tersebut telah dinasakh (dihapus) dengan adanya ayat yang berbunyi:

وَٱلَّذِينَ آمَنُواْ وَٱتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ أَلَتْنَاهُمْ مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ ٱمْرِىءٍ بِمَا كَسَبَ رَهَينٌ

"Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikitpun pahala amal mereka itu. Setiap manusia terikat dengan apa yang telah dikerjakannya." (Q.S. Ath-Thur {52}: 21).

2. Ayat di atas dikhususkan untuk kaum Nabi Ibrahim dengan Nabi Musa. Sedangkan bagi umat Nabi Muhammad akan memperoleh apa yang diusahakannya dan yang diusahakan orang lain untuknya. Yang demikian inilah menurut pendapat Ikrimah.

3. Yang dimaksud dengan "Seorang manusia" di sini yaitu orang kafir. Sedangkan bagi orang mukmin adalah apa yang diusahakan oleh dirinya dan yang diusahakan orang lain untuknya. Inilah pendapat Rabi' bin Anas.

4. Seseorang tidak akan memperoleh apapun selain dari apa yang diusahakannya melalui jalan yang telah ditetapkan kecuali yang diperoleh dari jalan keutamaan. Maka, bisa jadi Allah akan menambahkan baginya pahala sesuai dengan kehendak-Nya. Hal demikian ini menurut pendapat Al-Husain bin Al-Fadhal.

5. Huruf lam (ل) pada kalimat "Lil insani" dalam ayat tersebut bermakna " 'ala ". Lebih tegasnya: "Laisa 'alal insani illa maa sa'aa. "Pendapat ini didasarkan pada qiyas (analogi) pada do'a, sedekah, puasa, haji, dan memerdekakan hamba sahaya yang dikemukakan sebelumnya. Menurut pendapat ini, tidak ada perbedaan antara pemindahan pahala haji, sedekah, wakaf, dan do'a dengan bacaan Al-Qur'an. Pendapat ini juga didasarkan pada hadits-hadits yang disebutkan sebelumnya. Walaupun hadits-hadits tersebut dha'if, akan tetapi secara keseluruhan hadits-hadits tersebut memiliki sumber. Selain itu, pendapat ini juga berlandaskan pada alasan bahwa kaum muslimin dari masa ke masa masih terus berkumpul untuk membacakan Al-Qur'an bagi orang-orang yang telah meninggal dunia di antara mereka. Yang demikian ini menurut ijma' (konsensus atau kesepakatan) ulama. Hal itu disampaikan oleh Al-Hafizh Syamsuddin Ibnu Abdul Wahid al-Maqdisi al-Hanbali.

Imam Al-Qurthubi berkata, Syeikh 'Izzuddin bin 'Abdussalam telah mengeluarkan fatwa bahwa pahala bacaan Al-Qur'an itu tidak sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia. Ketika beliau sudah wafat, sebagian sahabatnya bermimpi bertemu dengannya. Mereka bertanya kepadanya. "Engkau telah mengatakan bahwa pahala bacaan Al-Qur'an itu tidak sampai kepada orang yang sudah meninggal, lalu bagaimana engkau melihat itu?"

Beliau menjawab, "Aku mengatakan hal itu ketika aku masih hidup di dunia, namun sekarang aku telah meninggal. Aku telah melihat adanya kemurahan Allah dalam hal itu, yaitu bahwa pahala bacaan Al-Qur'an tersebut sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia."

Sedangkan masalah bacaan Al-Qur'an di kuburan, sahabat-sahabat kami dan yang lainnya telah memastikan bahwa masalah itu disyari'atkan dalam agama Islam. Kemudian, Imam Al-Za'farani berkata, "Aku pernah bertanya kepada Imam Asy-Syafi'i mengenai perihal bacaan Al-Qur'an di kuburan. Beliau menjawab, "Tidak apa-apa."

Di dalam kitab "Syarah al-Muhadzdzab" Imam Nawawi berkata, "Disunnahkan bagi orang yang berziarah kubur untuk membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an yang mudah baginya dan mendo'akan mereka setelah membacanya. Hal tersebut sudah dinash oleh Imam Asy-Syafi'i."

Kemudian beliau menambahkan pada tempat yang lain, "Apabila mereka mengkhatamkan Al-Qur'an di kuburan, maka hal itu lebih utama ."

Sedangkan, Imam Ahmad bin Hanbal pertama kali menolak pendapat tersebut dengan alasan tidak ada atsar sahabat Nabi yang mendasarinya. Akan tetapi, setelah mendapatkan dasarnya dari atsar sahabat Nabi, maka beliau pun kembali menerimanya.

Imam Asy-Sya'bi Al-Khalal mengatakan, "Apabila salah seorang di antara kaum Anshar meninggal dunia, mereka mereka pulang dan pergi ke kuburannya untuk membacakan Al-Qur'an untuknya."

Mengenai keutamaan surah Al-Ikhlas, Abu Muhammad As-Samarqandi menceritakan hadits dari Ali sebagai hadits marfu'. Disebutkan, "Tidaklah seseorang berjalan melewati kuburan lalu dia membaca surah Al-Ikhlas sebanyak sebelas kali, kemudian berniat memberikan pahalanya untuk orang-orang yang sudah meninggal dunia, melainkan pahalanya akan diberikan kepada beberapa orang yang sudah meninggal dunia."

Abul Qasim Sa'ad bin Ali al-Zanjani menceritakan hadits dari Abu Hurairah. Dikatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang masuk ke pekuburan, kemudian membaca surah al-Fatihah, surah al-Ikhlas, dan surah at-Takatsur, kemudian berdo'a, "Ya Allah, sesungguhnya saya berniat untuk memberikan pahala atas apa yang aku baca ini kepada penghuni kubur yang beriman, baik itu laki-laki maupun perempuan, maka mereka akan menjadi pemohon syafa'at kepada Allah SWT baginya."

Al-Qadhi Abu Bakar bin Abdul Baqi' al-anshari menuturkan riwayat dari dari salmah bin 'Ubaid. Disebutkan bahwa Hammad al-Makki berkata, "Di suatu malam aku pernah pergi ke beberapa kuburan di Mekkah. Lalu, aku meletakkan kepalaku di atas sebuah kubura sampai aku tertidur. Kemudian aku bermimpi melihat para penghuni kubur duduk melingkar. Lalu aku bertanya, "Apakah hari kiamat telah tiba?" Jawab mereka, "Tidak, hanya saja ada seseorang dari saudara kami yang membaca surah al-Ikhlas dan memberikan pahalanya kepada kami."

'Abdul Aziz menceritakan hadits dari Anas bin Malik r.a  bahwa Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang memasuki kuburan, kemudian ia membaca surat Yasin, maka Allah akan memberikan kepada mereka, sedangkan dia akan medapatkan kebaikan sejumlah penghuni kubur yang ada di sana."

Terkait dengan hadits, "Bacakanlah surah Yasin untuk orang-orang yang sudah meninggal dunia." maka Imam al-Qurthubi berkata bahwa bacaan surat Yasin ini selain pantas dibacakan di sisi orang ketika akan meninggal dunia, juga pantas dibaca di sisi kuburannya.

Mengenai pendapat tersebut, aku berkata (maksudnya pengarang) bahwa pendapat yang pertama adalah pendapat ulama jumhur, sedangkan pendapat yang kedua adalah pendapat Ibnu 'Abdul Wahid al-Maqdisi.

Di sebutkan dalam kitab "Ihya 'Ulumuddin" karya Imam al-Ghazali dan kitab "Al-'Aqibat" karya Imam 'Abdul Haq dari Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa: "Jika kalian memasuki pekuburan, maka bacakanlah surah Al-Fatihah, surah Al-Falaq, surah An-Nas, dan surah Al-Ikhlas, kemudian hadiahkanlah bacaan tersebut kepada para penghuni kubur". Sesungguhnya hal tersebut bisa sampai kepada mereka."

Imam Al-Qurthubi mengatakan pula bahwa pernah juga dikatakan bagi pembacanya akan mendapatkan pahala bacaan Al-Qur'an itu, sedangkan orang yang sudah meninggal dunia akan mendapatkan pahala bacaan karena mendengarkannya. Dengan demikian rahmat Allah akan mengiringinya. Allah SWT berfirman:

وَإِذَا قُرِىءَ ٱلْقُرْآنُ فَٱسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

"Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kalian mendapat rahmat. (Q.S. Al-A'raf {7}: 204).

Imam Al-Qurthubi mengatakan, "Tidaklah jauh di dalam kemurahan Allah SWT mengiringinya pahala bacaan Al-Qur'an dan memperdengarkannya secara bersamaan, serta sampainya pahala bacaan Al-Qur'an tersebut yang dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal dunia, walaupun orang itu tidak mendengar, sama halnya seperti sedekah dan do'a."

Imam Al-Qurthubi mengatakan pula bahwa sebagian ulama kita mengambil dalil atas manfaatnya bacaan Al-Qur'an bagi si mayit di sisi kuburannya berdasarkan hadits Rasulullah saw tentang pelepah kurma yang dibelah dua oleh beliau lalu ditancapkan pada dua kuburan sambil bersabda, "Mudah-mudahan pelepah kurma ini akan meringankan penghuni kedua kuburan tersebut selama ia belum mengering (masih basah) !"

Berkenaan dengan hadits tersebut, Imam Al-Khuthabi mengatakan, "Yang demikian itu, menurut para ulama, karena segala sesuatu - selama masih tetap hijau (belum mengering) dan masih utuh - bertasbih hingga ia mengering, atau berubah warna hijaunya, atau potong dari batangnya."
 
Ulama lainnya berkata, "Jika tasbih yang dilakukan kedua pelepah kurma itu saja dapat meringankan penghuni kuburan, lalu bagaimana dengan bacaan Al-Qur'an yang dilakukan oleh orang mukmin?"
 
Ibnu 'Asakir menceritakan riwayat melalui Hammad bin Salmah dari Qatadah. Disebutkan bahwa Abu Barzah al-Aslami menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah berjalan melewati sebuah kuburan yang penghuninya sedang disiksa. Kemudian, beliau mengambil pelepah kurma dan menanamkannya pada kuburan tersebut seraya berucap, "Mudah-mudahan pelepah kurma ini dapat meringankan siksaannya selama masih basah !"
 
Abu Barzah sendiri juga pernah berpesan, "Jika aku meninggal dunia nanti, letakkanlah di atas kuburanku dua pelepah kurma." 

Maka pada saat Abu Barzah meninggal di padang pasir yang terletak di antara Karman dan Qawmis, orang-orang berkata, "Dia telah berpesan agar kami meletakkan dua pelepah kurma di atas kuburannya. Padahal, di tempat ini tidak terdapat pelepah kurma sama sekali . Ketika mereka sedang dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba datang serombongan orang yang menaiki kendaraannya dengan membawa pelepah kurma. Lalu, mereka dengan segera mengambil dua pelepah kurma darinya dan meletakkannya di atas kuburannya."

Ibnu Sa'ad menuturkan riwayat Mawriq bahwa Buraidah berwasiat agar diletakkan di atas kuburannya dua pelepah kurma.

Di dalam kitab "Tarikh Ibnu An-Najjar", terjemahan Katsir Ibnu Salim al-Haiti, diceritakan bahwa dia berpesan agar kuburannya tidak diperbaiki apabila rusak. Dia sangat menekankan pesannya tersebut seraya berucap, "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla melihat para penghuni kuburan-kuburan yang telah rusak, maka Dia mengasihi mereka, sehingga aku pun berharap termasuk salah satu dari mereka."
{Kitab "Syarhush Shudur bi Syarhil Mawta wal Qubur" halaman 268-271, karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi, cetakan "Darul Fikr", Beirut - Libanon}.
Kamis, 04 Mei 2017

Hukum Selamatan Kematian hari ke-3, 7, 40, 100, 1000


Oleh : KH. Thobary Syadzily Al-Bantani

Hukum mengadakan Selamatan hari ke-3, 7, 40, 100, setahun, dan 1000 hari adalah diperbolehkan dalam syari'at Islam. Keterangan ini diambil dari kitab "Al-Hawi lil Fatawi" karya Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi jilid 2 halaman 178 sebagai berikut:

قال الامام أحمد بن حنبل رضي الله عنه فى كتاب الزهد له : حدثنا هاشم بن القاسم قال: حدثنا الأشجعى عن سفيان قال قال طاوس: ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن|| يطعموا عنهم تلك الأيام, قال الحافظ ألو نعيم فى الجنة: حدثنا أبو بكر بن مالك حدثنا عبد الله بن أحمد بن حنبل حدثنا أبى حدثنا هاشم بن القاسم حدثنا الأشجعى عن سفيان قال: قال طاوس: ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام


Artinya:
"Telah berkata Imam Ahmad bin Hanbal ra di dalam kitabnya yang menerangkan tentang kitab zuhud: Telah menceritakan kepadaku Hasyim bin Qasim sambil berkata: Telah menceritakan kepadaku al-Asyja'i dari Sufyan sambil berkata: TelaH berkata Imam Thawus (ulama besar zaman Tabi'in, wafat kira-kira tahun 110 H / 729 M): Sesungguhnya orang-orang yang meninggal dunia itu akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) bagi orang-orang yang telah meninggal dunia selama hari-hari tersebut.

Telah berkata al-Hafiz Abu Nu'aim di dalam kitab Al-Jannah: Telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Malik, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepadaku Ubay, telah menceritakan kepadaku Hasyim bin al-Qasim, telah menceritakan kepadaku al-Asyja'i dari Sufyan sambil berkata: Telah berkata Imam Thawus: Sesungguhnya orang-orang yang meninggal dunia akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka dari itu, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal dunia selama hari-hari tersebut."

Selain itu, dalam kitab yang sama jilid 2 halaman 194 juga diterangkan sebagai berikut:

ان سنة الاطعام سبعة أيام بلغنى أنهامستمر الى الأن بمكة و المدينة فالظاهر أنها لم تترك من عهد الصحابة الى الأن و انهم أخذوها خلفا عن سلف الى الصدر الأول

ِArtinya:
"Sesungguhnya, kesunnahan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan perbuatan yang tetap berlaku sampai sekarang (yaitu masa Imam Suyuthi abad ke-9 H) di Mekkah dan Madinah. Yang jelas kebiasaan tersebut tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat sampai sekarang, dan tradisi tersebut diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama, yaitu sahabat."

Rabu, 03 Mei 2017

Hukum Mencium dan Mengusap Makam

 

Boleh hukumnya mencium dan mengusap makam orang-orang shaleh untuk tujuan tabarruk. Begitu pula dengan mencium Al-Quran dan Hadits. Hal itu sebagaimana diterangkan di dalam kitab "Wafa'ul Wafa bi Akhbari Daril Mushthafa" karya Imam Nuruddin Ali bin Ahmad as-Samhudi, jilid 4 halaman 1404-1406, cetakan "Darul Fikr", Beiru - Libanon. Lihat dan simak tulisan di 3 buah foto di bawah ini:

Wafa'ul Wafajilid 4 hal 1404

Wafa'ul Wafa jilid 4 hal 1405

Wafa'ul Wafa jilid 4 hal 1406




Hukum Membaca Al-Qur'an di Hadapan Mayit


Oleh : KH. Thobary Syadzily al-Bantani


Membaca surat Yasin di hadapan orang yang sudah meninggal adalah hukumnya Sunnah. Hal tersebut ada hadits shohihnya dari Nabi Muhammad saw, sebagaimana diterangkan di dalam kitab "Faidhul Qadir Syarah al-Jami'ush Shaghir" jilid 6 halaman 200 dengan keterangan sebagai berikut:

من قرأ يس ابتغاء وحه الله غفر له ما تقدم من ذنبه , فاقرأوها عند موتاكم

Artinya
=====
"Barangsiapa yang membaca surat ‘Yasin’ karena mengharap ridho Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya (dosa-dosa kecil) yang telah lalu. Oleh karena itu, bacalah surat ‘Yasin’ tersebut di hadapan orang-orang yang sudah meninggal di antara kalian!"


Faidhul Qadir jilid 6

Selasa, 02 Mei 2017

Imam Syafi'i Mendoakan Orang Yang Meninggal

 

Adab asy-Syafi'i wa Manaqibuhu hal. 63
Ketika ada orang yang meninggal, Imam Syafi'i melawat dan menghadirinya. Kemudian, beliau mendo'akan di hadapan jenazahnya. Hal itu diterangkan di dalam kitab "Adab asy-Syafi'i wa Manaqibuhu", karya al-Imam al-Jalil Abdurrahman bin Abi Hatim ar-Razi (wafat 327 H.), halaman 63, cetakan "Darul Kutub al-'Ilmiyyah", Beirut - Libanon sebagai berikut (lihat tulisan di foto !):

أخبرنا أبو الحسن , أنا أبو محمد , حدثنا أبي , قال : أخبرني يونس , قال : سمعت الشافعي و حضر ميتا , فلما سجينا عليه نظر اليه , فقال : اللهم بغناك عنه و فقره اليك , اغفر له

Artinya:
=====

"Telah mengkabarkan kepada kami yaitu Abul Hasan, (Aku) Abu Muhammad, telah menceritakan kepada kami bapakku, dia berkata: Telah mengkabarkan kepadaku Yunus, dia berkata: Saya mendengar Imam Syafi'i dan beliau mendatangi orang meninggal (mayit). Lalu, ketika beliau membuka pakaian yang menjadi penutup di wajahnya, maka beliau menatap wajahnya lalu mendo'akannya: Ya, Allah ! Dengan melalui kekayaan-Mu darinya dan kefaqirannya untuk-Mu, maka ampunilah dia !

Imam Syafi'i Bertabarruk dengan Jubah Imam Ahmad Ibn Hanbal

 

Di antara akhlak ulama salaf shaleh adalah meluluh lantahkan dirinya dengan melakukan tabarruk (mengambil berkah) kepada muridnya dan menanggung resiko dengan apa yang dilakukannya. Dia tidak memandang dirinya lebih alim (pintar) atau lebih banyak amal shalehnya dibandingkan muridnya berdasarkan syara’. Dan bila hal itu ada pada dirinya, maka dia tidak akan takut pada fitnah yang akan menimpanya dengan sebab melakukan tabarruk pada muridnya.

Sesungguhnya telah datang kepada kami bahwa Imam Syafi’I, semoga Allah meridhai beliau!, Pada saat mengutus seorang utusan yang mana ditunjuk beliau untuk mengunjungi Imam Ahmad Ibn Hanbal, beliau merasakan akan ada musibah besar yang akan menimpanya, namun beliau selamat dari musibah itu, yakni tentang munculnya sebuah permasalahan: “Apakah al-Qur’an itu makhluk atau bukan?.”

Maka dari itu, ketika utusan itu memberitahukan perihal tujuan kedatangannya, Imam Ahmad Ibn Hanbal langsung melepas gamis atau baju jubah yang dikenakannya dan memberikannya kepada utusan itu, karena beliau merasa sangat gembira atas kedatangan utusan gurunya, Imam Syafi’i.

Ketika utusan itu pulang dengan membawa gamis dan memberitahukannya kepada Imam Syafi’i, maka beliau berkata kepadanya: Apakah gamis ini sesuatu yang langsung melekat pada badannya, tanpa ada sesuatu lain yang menghalanginya?. Jawab utusan itu: Ya, benar.

Berkata Imam Abdul Wahab asy-Sya’rani: Kemudian, Imam Syafi’I mencium gamis itu dan meletakkannya di atas kedua mata beliau. Selanjutnya, beliau mengucurkan air ke atas gamis itu di dalam sebuah wadah dan mengosok-gosokkannya di dalamnya. Kemudian beliau memerasnya dan menaruh air basuhan gamis itu ke dalam sebuah botol. Maka, setiap ada orang sakit dari kalangan sahabat beliau, beliau mengirimkan air basuhan dari gamis itu kepadanya. Kemudian, jika dia mengusap badannya dengan air basuhan itu, maka sembuhlah penyakitnya, karena memang sudah waktunya.

Dengan demikian, simaklah wahai saudaraku tentang ketawadhu’an (kerendah-hatian) Imam Syafi’I dan Imam Ahmad sebagai murid beliau !. Hal Ini menunjukkan bahwa suatu kaum walaupun banyak amal shaleh mereka, namun mereka tidak memandang luhur diri mereka sehingga merendahkan orang lain, sebaliknya dari kaum itu banyak hal-hal yang terjadi pada golongan guru-guru agama di zaman sekarang ini.

{Kitab “Tanbihul Mughtarrin”, karya Imam Abdul Wahab asy-Sya’rani, seorang wali qutub pada zamannya, halaman 86, cetakan “Darul Kutub al-Islamiyyah”, Kalibata – Jakarta Selatan}.
Tanbihul Mughtarrin hal 86