Rabu, 22 Februari 2017

Kisah Nyata: Pembantaian Keluarga Syaikh Nawawi Al-Bantani Oleh Kaum Wahabi

Kisah ini diceritakan oleh keturunan dari keluarga Syaikh Nawawi al-Bantani yang berhasil lolos dari kejaran Wahhabi. Beliau adalah KH. Thabari Syadzily. Berikut adalah sedikit kisah pembataian tersebut.
KISAH NYATA : Pada zaman dahulu di kota Mekkah keluarga Syeikh Nawawi bin Umar Al-Bantani (pujangga Indonesia) pun tidak luput dari sasaran pembantaian Wahabi. Ketika salah seorang keluarga beliau sedang duduk memangku cucunya, kemudian gerombolan Wahabi datang memasuki rumahnya tanpa diundang dan langsung membunuh dan membantainya hingga tewas. Darahnya mengalir membasahi tubuh cucunya yang masih kecil yang sedang dipangku oleh beliau.

Sedangkan keluarganya yang lain di golongan laki-laki dikejar-kejar oleh gerombolan Wahabi untuk dibunuh. Alhamdulillah mereka selamat sampai ke Indonesia dengan cara menyamar sebagai perempuan.

KH. Thobari Syadzily Mengenakan Jubah Syaikh Nawawi al-Bantani. Baju jubah Syeikh Nawawi bin Umar bin 'Arobi bin Ali, Tanara - Banten masih tersimpan dengan rapih di rumah saudara sepupu KH. Thobary Syadzily di desa Kampung Gunung Kecamatan Mauk Kabupaten Tangerang, Banten.

- http://www.facebook.com/media/set/?set=a.220630511314917.56251.100001039095629&type=1
- http://www.facebook.com/photo.php?fbid=133828606661775&set=a.133828209995148.14930.100001039095629&type=1&theater

KH. Thobary Syadzily : NU Garis Lurus Termasuk Orang-Orang Munafik

Munculnya istilah "NU Garis Lurus" awalnya dipelopori oleh Ust. Luthfi Bashori dan kawan-kawan yang tentunya menganggap diri mereka sebagai pejuang kebenaran sedangkan yang lain dianggap sudah "bengkok". Hal semacam itu sejatinya bentuk daripada kesombongan sekaligus pola pikir yang sempit. Sempit karena tidak memikirkan dampak yang ditimbulkan, tidak memikirkan pihak-pihak diluar NU yang akan memanfaatkannya.

Keragaman berfikir / perbedaan pendapat dilingkungan NU tidak pernah membuat satu dengan yang lain memunculkan istilah baru seperti yang dilakukan oleh Ust. Luthfi Bashori. Setidaknya Ust. Luthfi Bashori ikut bertanggung jawab dunia akhirat atas apa yang telah diperbuat terhadap Jam'iyyah Nahdlatul Ulama yang dibangun oleh para ulama terdahulu.

Maka tak heran bila KH. Thobary Syadzily al-Bantani, salah seorang keturunan Syaikh Nawawi al-Bantani menyebut bahwa pihak yang mengatas namakan "NU Garis Lurus" sebagai orang-orang yang tergolong sebagai munafiqin (orang-orang munafiq).

Menurut Kyai Thobari, sampai kapanpun NU tetaplah NU, tidak ada istilah "NU Garis Lurus". Istilah itu hanya dimunculkan oleh pihak-pihak yang tidak suka dan hasud terhadap Nahdlatul Ulama.

"Sampai kapanpun NU tetap NU. Jadi, tidak ada istilah "NU Garis Lurus". Istilah itu hanya dihembuskan oleh orang-orang atau kelompok yang tidak suka dan hasud kepada NU, meskipun mereka berasal dari tubuh NU sendiri. Dengan demikian, mereka adalah termasuk golongan orang-orang yang munafik. نعوذ بالله من ذلك", tulis Kyai Thobary diakun facebooknya. (20/3/2015)

Kyai Thobary Syadzily juga memberikan nasehat bila ada oknum yang tidak lurus maka yang diluruskan adalah oknumnya, bukan NU-nya.

"Kalau ada orang-orang NU yang tidak lurus atau tidak amanah, itu cuma oknum. Jadi harus diluruskan oknumnya, bukan NU-nya. Masa sich punya baju kotor harus dibuang. Ya harus dicucilah biar bersih n jangan dibuang.", tulis Kyai Thobary pada kolom komentar akunnya.

Di facebook, muncul fanpage NU Garis Lurus. Sedangkan disisi lain, Ust. Luthfi Bashori menyatakan tidak pernah membuka akun NU Garis Lurus di facebook.

KH. Thobary: Da'i Harus Ikhlas, Bukan Semata Karena Uang

Tangerang~ Merebaknya pemberitaan mengenai adanya Ustadz Pasang Tarif di akhir-akhir ini membuat KH. Thobary Syadzily angkat bicara.

Sebagaimana yang ditulis oleh ulama asal Banten yang merupakan cucu Syaikh Nawawi Al-Bantani di akun jejaring sosial Facebook-nya beberapa waktu lalu, beliau mengingatkan bahwa seorang da'i harus ikhlas dan tidak semata-semata karena uang.

"Seorang da'i harus benar-benar ikhlas untuk penyebaran dakwah Islamiyah, apapun resikonya. Sebab, kalau tidak ikhlas dan hanya semata-mata karena uang, maka resiko yang paling besar yang akan diterimanya nanti di akherat adalah akan ditenggelamkan di neraka.", tulis KH. Thobary, Ketua Lajnah Falaqiyah PWNU Provinsi Banten, ini dalam status facebooknya.

Terkait dengan kasus yang menimpa Ustadz sekaligus artis kondang Ustadz Solmed, beliau sekedar menyampaikan bahwa mereka aktivis pengajian di Hongkong benar-benar murni dakwah Islam (bukan komunis seperti yang dituduhkan Solmed -red).

KH. Thobary Syadzily, yang juga merupakan Ketua Tim Sarkub, bisa berkata demikian karena beliau sendiri pernah juga ikut diundang di Hongkong sebagai da'i penceramah oleh salah satu majelis ta'lim/ pengajian disana.

"Saya tahu banyak tentang TKW di Hongkong. Mereka benar2 murni dakwah Islam. Karena, saya juga tahun kemarin dakwah di sana. Ketika itu karena kurang dana, saya tidak dibayar dan saya ikhlas menerimanya. Lagipula, saya sadar bahwa tujuan dakwah bukan untuk mencari uang. Dan, insya Allah nanti Allah akan menggantinya dalam bentuk lain.", ujar KH. Thobary Syadzily

Sebelumnya KH. Thobary Syadzily juga membuat status yang bisa kita jadikan pelajaran agar selalu menepati janji.

"Jangan pernah mengingkari janji yang telah disepakati sehingga membuat orang lain kecewa ! Karena, perbuatan tersebut bukanlah sikap seorang ksatria.", tulis KH. Thobary.

KH. Thobary Syadzily, Mengawal Aswaja Sampai Dunia Maya

KH. Thobary Syadzily adalah seorang ulama yang juga merupakan salah satu cucu dari Syaikh Nawawi Al Bantani dan Syaikh Abdul Karim
Beliau adalah seorang ulama yang juga sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al Husna di Jalan Raya M. Toha No 51 Rt 02 Rw 02 Km 4,5 Priuk Jaya Tangerang Banten. Ditemui saat wawancara di Masjid Jami Kota Malang, Beliau mengaku senang ketika mendarat di Kota Malang ini, karena di samping untuk memenuhi undangan sebagai penceramah di Majelis Maulid Wa Ta lim Riyadlul Jannah, Beliau juga ada jadwal bersilaturahim ke sejumlah Habaib dan guru guru Beliau di sini, lebih lebih, sambutan ummat Islam di Malang menjadi kesan tersendiri bagi beliau.
Beberapa hari berada di Malang, waktu yang terbatas ini tidak disia siakan oleh KH. Thobary. Agendanya cukup padat. Sebelum mengisi di Majelis Maulid Wa Ta lim Riyadlul Jannah pada hari Sabtu malam, pada hari Jum atnya, Beliau mengisi khutbah jum at di Masjid Sabilillah Malang, kemudian malamnya ba dal Maghrib hingga isya mengisi tausiyah di Masjid Agung Jami Kota Malang. Ahad pagi, Beliau berkunjung ke Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur. Sebelum berangkat ke Tebu Ireng, Beliau pun menyempatkan diri untuk berziarah ke beberapa makam para wali dan haba ib di Kota Malang. Banyak rangkaian tempat yang harus saya kunjungi setelah acara Riyadlul Jannah . Begitu ungkapan KH. Thobary yang pada 1 Juni 2013, beliau pun juga akan bertolak ke Balikpapan Kalimantan Timur untuk menyampaikan materi seputar Ilmu Falaq di bidang perhitungan menentukan awal bulan Ramadhan dan bulan Dzulhijjah 2013.
Salafiyah Club
Di samping kesibukannya sebagai penceramah dan pengasuh Pondok Pesantren Al Husna di Tangerang Banten, Kyai Thobary juga diberi amanah sebagai ketua Lajnah Falaqiyah PWNU Provinsi Banten, ketua Lajnah Falaqiyah PCNU Kota Tangerang, Anggota tim fatwa dan hukum MUI Kota Tangerang, sebagai pengurus di Dewan Masjid Indonesia Kota Tangerang, pengurus di Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur an, pengurus Masjid Raya Al Ahzab, sekaligus anggota tim Nasional Kementrian Agama dan ada beberapa jabatan lagi yang Beliau emban.
Sejak kecil hingga dewasa KH. Thobary memang akrab dengan pendidikan dan kegiatan agama. Di samping latar belakangnya sebagai cucu dari Syekh Nawawi Al Bantani. Selama Tholabul Ilmi KH. Thobary As Syadily, juga mengenyam pendidikan formal. Pendidikannya dilalui di Madrasah Ibtidaiyah MI , Madrasah Tsanawiyah Negeri MTsN , madrasah Aliyah MA hingga kuliah.
Disamping belajar formal, Kyai Thobary juga pernah menimba ilmu di beberapa Pondok Salafiyah yang saat itu dikenal dengan istilah Salafiyah Club yang khusus membahas Kitab kitab Kuning. Seperti di Pondok Pesantren Pantar Gedang Kecamatan Ciberem Tasikmalaya untuk mendalami Ilmu Shorof, di Pondok Pesantren Riyadul Alqiyah, Sadang Garut Jawa Barat yang juga untuk mendalami ilmu Shorof khususnya Nahwu, di Pondok Pesantren Darul Hikam Ciberem Sukabumi Jawa Barat untuk mendalami ilmu mantik dan Balaghoh serta ilmu Maf ulat, di Pondok Pesantren Darul Ahkam Padarejang Serang Banten untuk mendalami ilmu Fiqih khususnya Fathul Mu in, di Pondok Pesantren Mursidul Falah Kampung Sawah Rengasdengklok Karawang Jawa Barat untuk mendalami ilmu Tauhid dan ilmu Usul Fiqih, dan Pondok Pesantren di Jawa Timur, seperti di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang selama 5 tahun.
Dakwah Dunia Maya
Selain pendidikan agama, KH. Thobary As Syadily juga pernah menimba ilmu dijenjang yang lebih tinggi khususnya ilmu formal. Beliau pernah kuliah di UNDAR jurusan Hubungan Internasional, dan di Fakultas FISIP yang juga sama sama jurusan Hubungan Internasional. Beliau lulus setelah menyelesaikan skripsinya yang berjudul Politik Luar Negeri Amerika Serikat dalam Penyelesaian Damai Palestina Pasca Perang Dingin. Penelitian ini dilakukannya di CIS Center strategic and International Studies di Tanah Abang Jakarta Pusat.
Dilihat dari latar belakang keluarga dan beberapa latar pendidikan serta ilmunya yang mumpuni, KH.Thobary memang patut disejajarkan dengan beberapa para alim ulama lainnya. Eksistensi dunia dakwah yang beliau tanamkan dalam hati sejak kecil, tidak hanya terlihat dalam dakwahnya di beberapa kota di tanah air, di pondok pesantren yang ia asuh, tetapi juga kepada khalayak umum khususnya anak muda lewat media dakwah social internet Facebook, Twitter dll. Langkah ini Beliau tempuh juga sebagai upaya untuk membendung bahaya wabah wahabi yang semakin berkembang di dunia maya. Dengan berbagai postingan dan kalam kalam yang berkaitan dengan Ahlussunnah Wal Jama ah, diharapkan orang awam khususnya anak muda, akan lebih memfilter diri agar tidak menyimpang dari ajaran para ulama dan Shalafus Sahlih.
Di singgung mengenai perbedaan Syeikh Nawawi Al Bantani dan Syeikh Abdul Karim di masa perjalanan dakwahnya, KH.Thobary As Syadily menjelaskan bahwa Syeikh Nawawi Al Bantani lebih memegang kitab kitab klasik, sedangkan Syeikh Abdul Karim lebih mengembangkan thoriqoh yang dianutnya, yakni Thoriqoh Naqsyabandiyah. Keduanya sama sama memegang peranan penting dalam menyelamatkan aqidah Ahlussunnah Waljamaah untuk membentengi ummat dari faham Wahabi.
Sebagai anjuran agar tidak adanya kepunahan dan melestarikan kitab kitab klasik, KH.Thobary menganjurkan untuk bisa men scan beberapa kitab klasik Aswaja yang asli seperti kitab kitab Tauhid. Contohnya kitab Fathul Majid, Aqidatul Awam, Fathul Awam, Akhsanusyiyah dll untuk bisa dipelajari kepada orang awam khususnya anak anak muda di Malang. Karena dengan membaca dan mempelajari beberapa kitab klasik yang asli tersebut, maka pemuda pemuda Aswaja akan mempunyai bekal ilmu yang banyak untuk menangkis faham Wahabi, sebab belajar tidak hanya mendengar, tapi juga harus mempunyai pegangan sebagai pendukung untuk melawan faham tersebut seperti pegangan beberapa kitab klasik yang dimilikinya.
Disadur oleh Tim Sarkub dari Tabloid Media Ummat Edisi 161 Tahun 2013

Profil KH. Thobary Syadzily, Cucunda Syaikh Nawawi Al-Bantany

KH. Thobary Syadzily adalah Pengasuh Pondok Pesantren al-Husna yang berada di Jl. Raya M. Toha No. 51 Rt. 02/02 Priuk Jaya, Tangerang, Banten. Beliau juga merupakan Ketua Umum Sarkub, salah satu perkumpulan pejuang Aswaja dalam membentengi aqidah ummat dari aqidah-aqidah yang melenceng.
Beliau adalah seorang kyai keturunan Syaikh Nawawi al-Bantani dan Syaikh Abdul Karim bin Syaikh Bukhari. Kedua kakeknya itu merupakan ulama besar pada zamannya yang diakui keilmuannya oleh dunia.
Syaikh Nawawi al-Bantani dan Syaikh Abdul Karim di masa perjalanan dakwahnya, sama-sama memegang peranan penting dalam menyelamatkan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, khususnya dari faham Wahabi. Walau ada perbedaan, Syaikh Nawawi al-Bantani lebih memegang kitab-kitab klasik, sedangkan Syaikh Abdul Karim lebih mengembangkan thariqah yang dianutnya, yakni Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah.
Semenjak kecil hingga dewasa KH. Thobary sudah akrab dengan pendidikan dan kegiatan agama. Disamping belajar formal, Kyai Thobary juga menimba ilmu di beberapa pondok pesantren salaf yang khusus membahas kitab-kitab kuning. Diantara pondok pesantren yang pernah beliau singgahi adalah:
1.      Pondok Pesantren Bantar Gedang Kecamatan Cibeureum Tasikmalaya, untuk mendalami ilmu nahwu dan sharaf.
2.      Pondok Pesantren Riyadhul Alfiyah Sadang Garut Jawa Barat, juga untuk mendalami ilmu nahwu dan sharaf.
3.      Pondok Pesantren Darul Hikam Cibeureum Sukabumi Jawa Barat, untuk mendalami ilmu manthiq, balaghah dan maqulat.
4.      Pondok Pesantren Darul Ahkam Padarincang Serang Banten, untuk mendalami ilmu fiqh khususnya kitab Fath al-Mu’in dan ilmu faraid.
5.      Pondok Pesantren Mursyidul Falah Kampung Sawah Rengasdengklok Karawang Jawa Barat, untuk mendalami ilmu tauhid dan ilmu ushul fiqh.
6.      Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur, belajar ilmu tafsir dan hadits, organisasi dan ilmu research (penelitian) selama 5 tahun.
Disamping kesibukannya sebagai penceramah dan Pengasuh Pondok Pesantren al-Husna di Tangerang Banten, Kyai Thobary juga diberi beberapa amanah diantaranya sebagai:
1.      Ketua Lajnah Falakiyah PWNU Provinsi Banten.
2.      Ketua Lajnah Falakiyah PCNU Kota Tangerang.
3.      Anggota Tim Fatwa dan Hukum MUI Kota Tangerang.
4.      Pengurus Dewan Masjid Indonesia Kota Tangerang.
5.      Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran.
6.      Pengurus Masjid Raya al-Ahzab.
7.      Anggota Tim Nasional Kementrian Agama.
Dalam dunia pendidikan formal, KH. Thobary Syadzily pernah pernah kuliah di UNDAR (Universitas Darul Ulum) jurusan Hubungan Internasional, dan di Fakultas FISIP yang juga mengambil jurusan Hubungan Internasional, keduanya di Jombang Jawa Timur. Beliau lulus setelah menyelesaikan skripsinya yang berjudul Politik Luar Negeri Amerika Serikat dalam Penyelesaian Damai Palestina Pasca Perang Dingin. Penelitian ini dilakukannya di CSIS (Center Strategic and International Studies) di Tanah Abang Jakarta Pusat.
Dilihat dari latar belakang keluarga dan beberapa latar pendidikan, bisa kita nilai bahwa KH. Thobary adalah orang yang berilmu luas. Apalagi setelah kita mengenal lebih dekat dengan beliau, maka akan terlihat dengan jelas seberapa besar kompetensi beliau dalam menguasai berbagai macam cabang ilmu, khususnya ilmu agama.
Eksistensi dunia dakwah yang beliau tanamkan dalam hati sejak kecil, tidak hanya terlihat dalam dakwahnya di beberapa kota di tanah air dan di pondok pesantren yang ia asuh, tetapi juga kepada khalayak umum khususnya anak muda lewat media sosial seperti facebook, twitter dll. Langkah ini beliau tempuh sebagai upaya untuk membendung bahaya wabah Wahabi yang semakin berkembang di dunia maya. Beliau berharap, orang awam khususnya anak muda akan lebih memfilter diri agar tidak menyimpang dari ajaran para ulama dan salaf shaleh.
Melihat semakin punahnya kitab-kitab klasik Ahlussunnah yang masih asli, KH. Thobary menganjurkan untuk menscan dan mencetak ulang beberapa kitab klasik, terlebih kitab-kitab tauhid seperti kitab Fath al-Majid, ‘Aqidat al-‘Awam, Fath al-‘Awam, as-Sanusiyyah dll. Karena dengan membaca dan mempelajari beberapa kitab klasik yang asli tersebut, maka pemuda-pemuda Aswaja akan mempunyai bekal ilmu yang banyak untuk menangkis faham Wahabi. Sebab belajar tidak hanya mendengar, tetapi juga harus mempunyai pegangan sebagai pendukung untuk melawan faham tersebut seperti pegangan beberapa kitab klasik yang dimilikinya.
Perlu diketahui bahwa, dalam dakwahnya membendung faham Wahabi, KH. Thobary Syadzily tentu menggunakan cara yang persuasif (bil hikmah wal mau’idzatil hasanah). Amat sangat dihindari oleh beliau cara dakwah dengan caci-maki maupun kekerasan. Terbukti beliau beberapa kali lebih memilih mendatangi langsung (face to face) para tokoh Wahabi dari berbagai daerah. Salah satunya adalah Mahrus Ali, tokoh Wahabi Jombang yang menulis sebuah buku yang dalam judulnya ditulis Mantan Kyai NU. Juga salah seorang tokoh Wahabi yang produktif menulis, Hartono Ahmad Jaiz, pernah didatanginya.
Terakhir keberhasilannya dalam mementahkan hujjah-hujjah Wahabi, terlihat pada usaha investigasinya terhadap tayangan-tayangan Khazanah Trans7 yang banyak menyinggung amalan-amalan Nahdliyin, seperti maulid, istighatsah, ziarah kubur, dzikir bersama dan lain sebagainya dikatan sebagai amalan bid’ah, syirik dan sesat. Sidang investigasi itu diprakarsai oleh tim Sarkub bersama perwakilan dari pihak KPI, NU, FPI, MUI dan tim Khazanah Trans7.
Walau dalam sidang tersebut pihak Khazanah Trans7 telah mengakui kesalahannya dan berjanji akan memperbaikinya, namun pada perkembangan selanjutnya tetap saja mereka menyebarkan faham Wahabinya dan selalu saja menghantam amalan-amalan Aswaja khususnya amalan Nahdliyin.
Usaha telah dilaksanakan sebaik mungkin, tak ada caci-maki dan bentuk kekerasan, itulah yang tercermin dari dakwah sosok KH. Thobary Syadzily. Yang terpenting baginya adalah melaksanakan kewajiban dakwah, menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan, dan hidayah sepenuhnya mutlak dari Allah Swt. Semoga kita semuanya senantiasa dikaruniai hidayah oleh Allah Swt. sehingga ketika wafat dalam keadaan iman dan Islam. Aamiin.
Sya’roni As-Samfuriy, 06 Nopember 2013
Koleksi foto-foto bisa dilihat di sini: