Hukum Tawassul pada Para Nabi dan Orang-Orang Saleh

shares

 

Oleh : KH. Thobary Syadzily
 
Di dalam kitab " تحفة الذاكرين " (Tuhfatudz Dzakirin. Artinya: Sesuatu yang sangat berharga bagi orang-orang yang senantiasa berdzikir kepada Allah swt), karya Syeikh Muhammad bin Ali bin Muhammad asy-Syaukani al-Yamani ash-Shan'ani (wafat 1250 H) halaman 47-48 diterangkan sebagai berikut:

Ucapan dari pengarang: Dan seseorang bertawassul kepada Allah swt dengan perantara para Nabi dan orang-orang shaleh, aku katakan: Dan dari hukum tawassul dengan perantara para Nabi adalah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi, dan beliau berkata bahwa hadits tersebut adalah hadits hasan shahih gharib. Begitu pula hadits yang dikeluarkan oleh Imam Nasa'i, Imam Ibnu Majah, Imam Ibnu Hujaimah di dalam kitab shahihnya, dan Imam Hakim. Beliau berkata (Imam Hakim): Hadits tersebut adalah hadits shahih atas syarat Imam Bukhari. Begitupula hadits yang dkeluarkan Imam Muslim dari hadits Utsman bin Hanif RA : Sesungguhnya seorang tunanetra datang kepada Nabi saw dan dia (tunanetra) berkata: Ya, Rasulallah ! Pintakanlah kepada Allah untuk kesembuhanku dari kebutaan mataku !. Jawab beliau (Rasulullah): Pintalah sendiri kepada Allah !. Kemudian, dia (tunanetra) berkata: Ya, Rasulallah !. Sesungguhnya, kabur atasku pandangan mataku. Jawab beliau (Rasulullah): Pergi dan berwudhulah ! Shalat sunnah lah dua raka'at !. Kemudian, ucapkanlah:

اللهم انى أسألك و أتوجه اليك بمحمد نبي الرحمة

Artinya: Ya, Allah ! Sesungguhnya aku meminta kepadamu dan aku hadapkan wajahku kepadamu dengan perantara Muhammad sebagai Nabi pembawa Rahmat.

Adapun tawassul dengan perantara orang-orang shaleh adalah sudah ditetapkan di dalam hadits shahih, yaitu: Sesungguhnya, sahabat Nabi saw meminta hujan kepada Allah dengan perantara Abbas ra sebagai paman Rasulullah saw. Dan Umar ra berkata:

أللهم انا نتوسل اليك بعم نبينا الخ

Artinya: Ya, Allah !. Sesungguhnya, kami bertawassul kepada engkau dengan perantara paman Nabi kami dan seterusnya. 

Tuhfatudz Dzakirin hal 47

Tuhfatudz Dzakirin hal 48


Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar