Sampainya Pahala Bacaan Al-Qur'an Untuk Orang Meninggal

shares

 
Oleh: KH. Thobary Syadzily Al-Bantani

Mengenai sampainya pahala bacaan Al-Qur'an kepada orang yang sudah meninggal dunia, para ulama telah berbeda pendapat. Jumhur ulama dan ketiga Imam Madzhab mempunyai pendapat bahwa pahala bacaan Al-Qur'an sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia. Akan tetapi, Imam Syafi'i berpendapat lain karena bersandarkan pada firman Allah ta'ala yang berbunyi:

وَأَن لَّيْسَ لِلإِنسَانِ إِلاَّ مَا سَعَىٰ

"Dan bahwasanya seorang manusia itu tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya. (Q.S. An-Najm {53}: 39).

Beberapa ulama yang menyatakan bahwa pahala bacaan Al-Qur'an tersebut sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia menanggapi ayat tersebut di atas dengan beberapa pandangan sebagai berikut:

1. Ayat tersebut telah dinasakh (dihapus) dengan adanya ayat yang berbunyi:

وَٱلَّذِينَ آمَنُواْ وَٱتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ أَلَتْنَاهُمْ مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ ٱمْرِىءٍ بِمَا كَسَبَ رَهَينٌ

"Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikitpun pahala amal mereka itu. Setiap manusia terikat dengan apa yang telah dikerjakannya." (Q.S. Ath-Thur {52}: 21).

2. Ayat di atas dikhususkan untuk kaum Nabi Ibrahim dengan Nabi Musa. Sedangkan bagi umat Nabi Muhammad akan memperoleh apa yang diusahakannya dan yang diusahakan orang lain untuknya. Yang demikian inilah menurut pendapat Ikrimah.

3. Yang dimaksud dengan "Seorang manusia" di sini yaitu orang kafir. Sedangkan bagi orang mukmin adalah apa yang diusahakan oleh dirinya dan yang diusahakan orang lain untuknya. Inilah pendapat Rabi' bin Anas.

4. Seseorang tidak akan memperoleh apapun selain dari apa yang diusahakannya melalui jalan yang telah ditetapkan kecuali yang diperoleh dari jalan keutamaan. Maka, bisa jadi Allah akan menambahkan baginya pahala sesuai dengan kehendak-Nya. Hal demikian ini menurut pendapat Al-Husain bin Al-Fadhal.

5. Huruf lam (ل) pada kalimat "Lil insani" dalam ayat tersebut bermakna " 'ala ". Lebih tegasnya: "Laisa 'alal insani illa maa sa'aa. "Pendapat ini didasarkan pada qiyas (analogi) pada do'a, sedekah, puasa, haji, dan memerdekakan hamba sahaya yang dikemukakan sebelumnya. Menurut pendapat ini, tidak ada perbedaan antara pemindahan pahala haji, sedekah, wakaf, dan do'a dengan bacaan Al-Qur'an. Pendapat ini juga didasarkan pada hadits-hadits yang disebutkan sebelumnya. Walaupun hadits-hadits tersebut dha'if, akan tetapi secara keseluruhan hadits-hadits tersebut memiliki sumber. Selain itu, pendapat ini juga berlandaskan pada alasan bahwa kaum muslimin dari masa ke masa masih terus berkumpul untuk membacakan Al-Qur'an bagi orang-orang yang telah meninggal dunia di antara mereka. Yang demikian ini menurut ijma' (konsensus atau kesepakatan) ulama. Hal itu disampaikan oleh Al-Hafizh Syamsuddin Ibnu Abdul Wahid al-Maqdisi al-Hanbali.

Imam Al-Qurthubi berkata, Syeikh 'Izzuddin bin 'Abdussalam telah mengeluarkan fatwa bahwa pahala bacaan Al-Qur'an itu tidak sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia. Ketika beliau sudah wafat, sebagian sahabatnya bermimpi bertemu dengannya. Mereka bertanya kepadanya. "Engkau telah mengatakan bahwa pahala bacaan Al-Qur'an itu tidak sampai kepada orang yang sudah meninggal, lalu bagaimana engkau melihat itu?"

Beliau menjawab, "Aku mengatakan hal itu ketika aku masih hidup di dunia, namun sekarang aku telah meninggal. Aku telah melihat adanya kemurahan Allah dalam hal itu, yaitu bahwa pahala bacaan Al-Qur'an tersebut sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia."

Sedangkan masalah bacaan Al-Qur'an di kuburan, sahabat-sahabat kami dan yang lainnya telah memastikan bahwa masalah itu disyari'atkan dalam agama Islam. Kemudian, Imam Al-Za'farani berkata, "Aku pernah bertanya kepada Imam Asy-Syafi'i mengenai perihal bacaan Al-Qur'an di kuburan. Beliau menjawab, "Tidak apa-apa."

Di dalam kitab "Syarah al-Muhadzdzab" Imam Nawawi berkata, "Disunnahkan bagi orang yang berziarah kubur untuk membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an yang mudah baginya dan mendo'akan mereka setelah membacanya. Hal tersebut sudah dinash oleh Imam Asy-Syafi'i."

Kemudian beliau menambahkan pada tempat yang lain, "Apabila mereka mengkhatamkan Al-Qur'an di kuburan, maka hal itu lebih utama ."

Sedangkan, Imam Ahmad bin Hanbal pertama kali menolak pendapat tersebut dengan alasan tidak ada atsar sahabat Nabi yang mendasarinya. Akan tetapi, setelah mendapatkan dasarnya dari atsar sahabat Nabi, maka beliau pun kembali menerimanya.

Imam Asy-Sya'bi Al-Khalal mengatakan, "Apabila salah seorang di antara kaum Anshar meninggal dunia, mereka mereka pulang dan pergi ke kuburannya untuk membacakan Al-Qur'an untuknya."

Mengenai keutamaan surah Al-Ikhlas, Abu Muhammad As-Samarqandi menceritakan hadits dari Ali sebagai hadits marfu'. Disebutkan, "Tidaklah seseorang berjalan melewati kuburan lalu dia membaca surah Al-Ikhlas sebanyak sebelas kali, kemudian berniat memberikan pahalanya untuk orang-orang yang sudah meninggal dunia, melainkan pahalanya akan diberikan kepada beberapa orang yang sudah meninggal dunia."

Abul Qasim Sa'ad bin Ali al-Zanjani menceritakan hadits dari Abu Hurairah. Dikatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang masuk ke pekuburan, kemudian membaca surah al-Fatihah, surah al-Ikhlas, dan surah at-Takatsur, kemudian berdo'a, "Ya Allah, sesungguhnya saya berniat untuk memberikan pahala atas apa yang aku baca ini kepada penghuni kubur yang beriman, baik itu laki-laki maupun perempuan, maka mereka akan menjadi pemohon syafa'at kepada Allah SWT baginya."

Al-Qadhi Abu Bakar bin Abdul Baqi' al-anshari menuturkan riwayat dari dari salmah bin 'Ubaid. Disebutkan bahwa Hammad al-Makki berkata, "Di suatu malam aku pernah pergi ke beberapa kuburan di Mekkah. Lalu, aku meletakkan kepalaku di atas sebuah kubura sampai aku tertidur. Kemudian aku bermimpi melihat para penghuni kubur duduk melingkar. Lalu aku bertanya, "Apakah hari kiamat telah tiba?" Jawab mereka, "Tidak, hanya saja ada seseorang dari saudara kami yang membaca surah al-Ikhlas dan memberikan pahalanya kepada kami."

'Abdul Aziz menceritakan hadits dari Anas bin Malik r.a  bahwa Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang memasuki kuburan, kemudian ia membaca surat Yasin, maka Allah akan memberikan kepada mereka, sedangkan dia akan medapatkan kebaikan sejumlah penghuni kubur yang ada di sana."

Terkait dengan hadits, "Bacakanlah surah Yasin untuk orang-orang yang sudah meninggal dunia." maka Imam al-Qurthubi berkata bahwa bacaan surat Yasin ini selain pantas dibacakan di sisi orang ketika akan meninggal dunia, juga pantas dibaca di sisi kuburannya.

Mengenai pendapat tersebut, aku berkata (maksudnya pengarang) bahwa pendapat yang pertama adalah pendapat ulama jumhur, sedangkan pendapat yang kedua adalah pendapat Ibnu 'Abdul Wahid al-Maqdisi.

Di sebutkan dalam kitab "Ihya 'Ulumuddin" karya Imam al-Ghazali dan kitab "Al-'Aqibat" karya Imam 'Abdul Haq dari Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa: "Jika kalian memasuki pekuburan, maka bacakanlah surah Al-Fatihah, surah Al-Falaq, surah An-Nas, dan surah Al-Ikhlas, kemudian hadiahkanlah bacaan tersebut kepada para penghuni kubur". Sesungguhnya hal tersebut bisa sampai kepada mereka."

Imam Al-Qurthubi mengatakan pula bahwa pernah juga dikatakan bagi pembacanya akan mendapatkan pahala bacaan Al-Qur'an itu, sedangkan orang yang sudah meninggal dunia akan mendapatkan pahala bacaan karena mendengarkannya. Dengan demikian rahmat Allah akan mengiringinya. Allah SWT berfirman:

وَإِذَا قُرِىءَ ٱلْقُرْآنُ فَٱسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

"Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kalian mendapat rahmat. (Q.S. Al-A'raf {7}: 204).

Imam Al-Qurthubi mengatakan, "Tidaklah jauh di dalam kemurahan Allah SWT mengiringinya pahala bacaan Al-Qur'an dan memperdengarkannya secara bersamaan, serta sampainya pahala bacaan Al-Qur'an tersebut yang dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal dunia, walaupun orang itu tidak mendengar, sama halnya seperti sedekah dan do'a."

Imam Al-Qurthubi mengatakan pula bahwa sebagian ulama kita mengambil dalil atas manfaatnya bacaan Al-Qur'an bagi si mayit di sisi kuburannya berdasarkan hadits Rasulullah saw tentang pelepah kurma yang dibelah dua oleh beliau lalu ditancapkan pada dua kuburan sambil bersabda, "Mudah-mudahan pelepah kurma ini akan meringankan penghuni kedua kuburan tersebut selama ia belum mengering (masih basah) !"

Berkenaan dengan hadits tersebut, Imam Al-Khuthabi mengatakan, "Yang demikian itu, menurut para ulama, karena segala sesuatu - selama masih tetap hijau (belum mengering) dan masih utuh - bertasbih hingga ia mengering, atau berubah warna hijaunya, atau potong dari batangnya."
 
Ulama lainnya berkata, "Jika tasbih yang dilakukan kedua pelepah kurma itu saja dapat meringankan penghuni kuburan, lalu bagaimana dengan bacaan Al-Qur'an yang dilakukan oleh orang mukmin?"
 
Ibnu 'Asakir menceritakan riwayat melalui Hammad bin Salmah dari Qatadah. Disebutkan bahwa Abu Barzah al-Aslami menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah berjalan melewati sebuah kuburan yang penghuninya sedang disiksa. Kemudian, beliau mengambil pelepah kurma dan menanamkannya pada kuburan tersebut seraya berucap, "Mudah-mudahan pelepah kurma ini dapat meringankan siksaannya selama masih basah !"
 
Abu Barzah sendiri juga pernah berpesan, "Jika aku meninggal dunia nanti, letakkanlah di atas kuburanku dua pelepah kurma." 

Maka pada saat Abu Barzah meninggal di padang pasir yang terletak di antara Karman dan Qawmis, orang-orang berkata, "Dia telah berpesan agar kami meletakkan dua pelepah kurma di atas kuburannya. Padahal, di tempat ini tidak terdapat pelepah kurma sama sekali . Ketika mereka sedang dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba datang serombongan orang yang menaiki kendaraannya dengan membawa pelepah kurma. Lalu, mereka dengan segera mengambil dua pelepah kurma darinya dan meletakkannya di atas kuburannya."

Ibnu Sa'ad menuturkan riwayat Mawriq bahwa Buraidah berwasiat agar diletakkan di atas kuburannya dua pelepah kurma.

Di dalam kitab "Tarikh Ibnu An-Najjar", terjemahan Katsir Ibnu Salim al-Haiti, diceritakan bahwa dia berpesan agar kuburannya tidak diperbaiki apabila rusak. Dia sangat menekankan pesannya tersebut seraya berucap, "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla melihat para penghuni kuburan-kuburan yang telah rusak, maka Dia mengasihi mereka, sehingga aku pun berharap termasuk salah satu dari mereka."
{Kitab "Syarhush Shudur bi Syarhil Mawta wal Qubur" halaman 268-271, karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi, cetakan "Darul Fikr", Beirut - Libanon}.

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar